16.1.10

Masih Belum Berubah

Jika tak ada lagi pijakan yang mampu menopangku
Aku akan segera berdiri di atas air
Lalu akan kubasahkan tapakku agar tak lagi membara
Seperti amarahmu saat kucoba menunjuk bintang itu

Aku juga masih bingung
Apa ada yang salah dengangemintang itu?
Mereka di atas sana juga tak pernah mengeluh
Hanya saja terkadang kesombongan menyelubungi pekat dunianya
Tapi itu tidaklah penting
Yang jelas aku tetap tak mampu meraihnya

Kemarin kau kirimkan sekuntum mawar hitam
Aku tak sempat menanamnya, sebab dia layu begitu ku sentuh
Tapi aku masih sempat menikmatinya sekejap
Begitu menyakitkan, hingga menusuk luka musim
Dan kau pun tertawa sambil menitikkan air mata

5.1.10

Jalan Pulang

Sebuah isyaratkah ini...
Ketika kulihat setangkai mawar hitam
di depan pintu kamarku
Mengingatkan aku pada lentik jarimu
memilin tangkai demi tangkai bunga itu
Yang dulu kita tanam bersama
Dengan cinta kau tiupkan kehidupan di ujung daunnya
Melalui seulas bibir yang biasa menghisap zakarku

Lagilagi anganku terusik dengan datangnya sepasang kupukupu
Sedang menarinari meningkahi aroma sejuk penantian
Hingga memaksaku menulis syair kampung halaman
Belum juga tintaku menggores
Telah patah batang penaku

Lupakah naluriku pada jalan pulang
Tapi sayap ini terlanjur tertancap pada dinding harihari
Mungkin semusim lagi...
Ketika kita telah melupakan mawar itu
Ketika sepasang kupukupu itu telah menetaskan ulatulat
Yang lalu mengunyah kuntum demi kuntum, helai demi helai,
tawa demi tawa, isak demi isak, tetes demi tetes...

Lupakah aku pada jalan pulang...
Ketika sebait puisiku hampir selesai...

Sisa Malam di Simpang Lima

Masih menderu...
Sisasisa bahan bakar dalam tangki motormu
Menuju satu sisi ruang sempit
Di antara gedunggedung itu

Bibir merah itu masih merekah
Menyedot sebatang rokok yang tinggal setengah
Memoles bait demi bait
Dalam sisa malam ini

Mata langit kian melotot
Ketika melihat pangkal cawatmu
Menyembul di antara punggung dan pantat
Menggambarkan seoles kegelisahan
"Apa malam ini aku dapat uang..."

Sisa malam di simpang lima
Matamata mengutuki langit mengelam

Catatan Dari Pinggir Trotoar

Ketika deru mesinmesin meningkahi
hangatnya belahan buah dada
yang menawarkan kenikmatan
dalam kebusukan buah pelir...
Ternyata setitik embun menetes
di antara nikmat pergumulan...

Bisik Pelacur Pada Anaknya

Nak...
Jika aku diijinkan membunuhmu
Maka aku akan membunuh diriku
Jika aku diijinkan merawatmu
Maka aku akan membuangmu
Jika aku diijinkan menjadi kau
Maka aku akan membunuh ibuku
Jika aku diijinkan melahirkanmu
Maka aku tak akan menjadi pelacur...

Memandang Potret Sendiri

Mencaci rindu yang tiap hari tak tahu kepada siapa ia ada
Padahal serak ini mengikuti teriaknya
Setumpuk ilmu yang terbungkus lembarlembar
Mengejek tarian pena pada sayatan pinus
Detak jarum waktu mengisi heningnya hitam
Lirih mencoba bersaing dengan siulan hembus

Lelaki muda mengeja mimpi
Mencoba susun keping puzzle kisahkisah
Memanjakan guling diantara paha
Terhina juga babi di belakang meja

Ah... Sekisah apa ini...
Ketika kebingungan menyergap sepotong nyawa
Mencoba pahami sekitar jasad
Hanya satu buat tertegun
Sepasang cicak lakukan tugas suci
Lanjutkan tugas cicak yang lain
"cicak makan nyamuk"

Seloroh sadar yang lain mencoba melihat
Ingin kuasai ruang otak
Sebongkah sadar yang lain lagi
Ingin segera membunuh dirinya sementara